• en
  • id

Dirgantara

Sektor penerbangan dan kedirgantaraan di Indonesia memiliki masa depan cerah dengan potensi besar. 

Jumlah penumpang udara di Indonesia diharapkan mencapai 30% per tahun hingga 140 juta pada 2018. Pasar ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara karena populasi Indonesia mencakup 40% dari 625 juta populasi gabungan 10 negara ASEAN.

Memiliki 17,000 pulau di seluruh wilayahnya dengan infrastruktur transportasi darat yang belum memadai, penerbangan dan digantara memainkan peranan vital bagi Indonesia dan perekonomiannya. Oleh karena itu, Indonesia dari sananya membutuhkan transportasi udara untuk mobilitas penduduknya dan untuk melakukan transportasi barang. Menurut prediksi Bank Dunia, perekonomian Indonesia akan tumbuh 5.3% pada 2017.

tinjauan sektor dirgantara di indonesia

Perkembangan Infrastruktur untuk Penerbangan dan Dirgantara 

Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia akan memprioritaskan 5 sektor: infrastruktur, pariwisata, energi, maritim dan makanan.

Kementerian Perhubungan Indonesia akan menjadikan perkembangan infrastuktur sebagai prioritas, terutama di area-area terpencil untuk memastikan pertumbuhan yang rata dan meningkatkan perekonomian lokal dan mendukung sektor pariwisata dengan akses yang lebih nyaman.

Perkembangan ini mencakup konstruksi dan modernisasi bandar udara yang dekat dengan destinasi pariwisata populer, seperti Bandar Udara Ahmad Yani di Semarang, Bandar Udara Adi Sumarmo di Solo, Bandar Udara Adi Sucipto di Yogyakarta, Bandar Udara Internasional Lombok di Lombok, Bandar Udara Ngurah Rai di Denpasar dan masih banyak lagi.

Perluasan Bandar Udara dan Rute Penerbangan Baru

Bandar udara-bandar udara di Indonesia merupakan salah satu yang tersibuk di Asia. Setiap harinya ada 1,200 – 1,700 pesawat terbang dan lepas landas di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, yang merupakan salah satu angka tertinggi jika dibandingkan dengan Kuala Lumpur, Changi dan Suvarnabhumi, yang hanya 971, 948 dan 868 per harinya.

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dulunya merupakan salah satu bandar udara tua yang telah diperluas dengan Terminal 3 Ultimate. Perluasan ini diharapkan dapat menyambut penumpang tambahan sebesar 25 juta.

Kementerian Perhubungan Indonesia mengizinkan dibukanya 83 rute penerbangan sipil baru komersial pada 2017. Rute penerbangan ini terdiri dari 25 rute internasional dan 58 rute domestik.

Alasan dibukanya rute baru adalah pemerintah Indonesia bertujuan menjadikan area-area terpencil di Indonesia tidak begitu terpencil karena alam Indonesia itu sendiri, serta juga untuk memperbaiki transportasi regional di Indonesia.

Investasi dan Kesempatan Bisnis di Kedirgantaraan dan Penerbangan

Sektor penerbangan dan kedirgantaraan di Indonesia masih menawarkan kesempatan investasi besar, mengingat adanya pertumbuhan kelas menengah dan kondisi geografis Indonesia yang unik.

Pariwisata domestik serta industri pariwisata internasional yang terus berkembang membuat perusahaan penerbangan domestik dan internasional melihat adanya potensi bisnis di pasar penerbangan dan dirgantara Indonesia, mendorong mereka untuk melakukan ekspansi yang agresif.

Misalnya, selain penerbangan ke Surabaya dan Jakarta yang sudah ada saat ini, Qatar Airways siap membuka rute baru ke Batam, Medan dan Mandao. Selain itu, Qatar Airways juga berencana menjadikan Batam sebagai pusat logistik kargonya, sebuah upaya untuk menembus pasar penerbangan dan dirgantara ASEAN.

Perluasan agresif dari perusahaan penerbangan domestik maupun internasional di Indonesia sesuai dengan rencana negara untuk menarik 19 juta turis asing setiap tahun pada 2019.

Lanjutkan Membaca

Layanan PEO Bisnis Outsourcing di Indonesia
Sistem Pendaftara dan Regulasi Produk di Indonesia

Silakan isi form di bawah ini dan kami akan memberitahu Anda proses memasuki sektor kedirgantaraan di Indonesia.