• en
  • id
  • zh-hans

Minyak dan Gas

Sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia, Indonesia selalu menjadi sumber teratas untuk minyak mentah dan gas.

Walaupun terlihat adanya penurunan dalam beberapa tahun belakangan, kemajuan industri minyak dan gas di Indonesia menikmati kesuksesan dalam banyak area, yaitu pembentukan model Kontrak Bagi Hasil serta komersialisasi dari Gas Alam Cair.

Sorotan

  • Indonesia memiliki cadangan minyak sebesar 3.7 miliar barel. Merupakan salah satu dari 20 penghasil minyak terbesar di dunia dengan kurang lebih 1.2% produksi minyak dunia.
  • Bertengger di posisi keempat di antara eksportir gas alam cair setelah Qatar, Malaysia dan Australia.
  • Merupakan penghasil gas alam terbesar kelima di dunia pada tahun 2016.
  • Pada tahun 2017, total pengeluaran investasi untuk pengembangan minyak dan gas di Indonesia adalah IDR 18.19 triliun (USD 1.3 miliar).

Penghasil Minyak dan Gas Dunia

Indonesia telah memainkan peran aktif di industri minyak dan gas internasional selama hampir 130 tahun setelah penemuan minyak pertama di Sumatera Utara pada tahun 1885. Sejak bergabung kembali sebagai anggota OPEC pada tahun 2015, Indonesia telah menunjukkan komitmennya terhadap sektor minyak dan gas. Per tahun 2018, Indonesia memiliki cadangan minyak sebesar 3.7 miliar barel dan merupakan salah satu dari 20 penghasil minyak teratas di dunia.

Selain itu, Indonesia berada di posisi 5 sebagai penghail gas alam terbesar pada tahun 2016. Dengan tingginya tingkat konsumsi minyak gas, Indonesia memegang pangsa pasar yang besar di industri minyak dan gas. Pemasukan dari industri ini berkontribusi sebesar lebih dari 20% untuk pendapata domestik di Indonesia

Proyek Berpotensi Tinggi

Empat rencana hulu minyak dan gas yang menjanjikan telah dimulai pada tahun 2016 di bawah Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk meningkatkan aktivitas minyak dan gas. Melalui inisiasi ini, proyek infrastruktur dapat cepat dilacak karena dianggap sebagai proyek terpenting dan strategis di Indonesia.

Empat proyek hulu minyak dan gas yang ditawarkan adalah Masela block Inpex; gas alam cair BP Berau’s Tangguh kereta 3; Indonesia Deepwater Development (IDD) milik Cheveron; dan Jambaran-Tiung Biru milik Pertamina EP Cepu. Selain itu, di dalam daftar PSN, tiga proyek hilir migas ikut dimasukkan, seperti penyulingan Bontang di Kalimantan Timur dan penyulingan Tuban di Jawa Timur.

Indonesia sebagai Eksportir Minyak dan Gas

Indonesia merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia dan merupakan anggota OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries). Namun, dengan cadangan minyaknya yang menurun, Indonesia telah memulai impor untuk beberapa minyak untuk konsumsi negara dalam beberapa tahun belakangan.

Indonesia juga merupakan eksportir gas alam cair terbesar keempat sesuadah Qatar, Malaysia dan Australia. Terdapat tiga fasilitas gas alam cair, yaitu di Arun di Aceh, Bontang di Kalimantan Timur dan Tangguh di Papua Barat. Untuk meningkatkan produksi, sejumlah proyek gas alam cari baru berada dalam berbagai tahap perkembangan, seperti penyulingan dan jalur pipa gas untuk gas alam cari. Misalnya, PT.PGN membangun jalur pipa gas sepanjang 34km di Semarang, Jawa Tengah untuk membantu memperluas konsumen gas alam cari Indonesia ke Tiongkok dan pesisir barat Amerika Serikat.

Kontrak Bagi Hasil

Aktivitas Bisnis Hulu Minyak dan Gas Indonesia (aktivitas eksplorasi dan produksi) dilakukan berdasarkan Kontrak Bagi Hasil, yang telah diadopsi oleh banyak negara berdaulat di dunia, termasuk eksportir minyak dan beberapa penghasil minyak. Eksplorasi adalah serangkaian kegiatan untuk mencari cadangan minyak dan gas baru. Jika eksplorasi menemukan cadangan minyak dan gas yang menguntungkan secara signifikan, aktivitas ini akan berlanjut ke tahap produksi.

Dengan Kontrak Bagi Hasil, perusahaan migas hanya mengeluarkan biaya awal untuk aktivitas bisnis hulu migas. Pemulihan pengeluaran akn terjadi saat proyek mencapai tahap produksi. Jika aktivitas bisnis tidak sukses, semua pengeluaran akan menjadi tanggung jawab kontraktor.

Investasi di Minyak dan Gas di Indonesia

Per Februari 2018, investasi langsung di sektor minyak dan gas Indonesia telah mencapai IDR 25.18 triliun (USD 1.8 miliar). Indonesia optimis akan adanya pertumbuhan investasi di sektor ini dalam beberapa kwartal ke depan, karena tidak ada tantangan baru terhadap iklim investasi di sektor ini.

Harga minyak mentah yang saat ini berkisar antara IDR 909,340 – IDR 979,290 (USD 65 – 70) per barel menunjukkan tanda pemulihan yang positif. Ini menjadi stimulus penting bagi perusahaan untuk berinvestasi di sektor minyak dan gas Indonesia. Pada kenyataannya, peningkatan investasi di eksplorasi minyal dan gas di Indonesia telah menyebabkan harga minyak yang lebih tinggi. Hanya dalam dua bulan pertama pada tahun 2018, investasi di eksplorasi mencakup 10.75% dari total investasi minyak dan gas pada periode tersebut—pertumbuhan yang luar biasa jika dibandingkan dengan enam tahun terakhir yang berada di angka 2-8%.

Total investasi minyak dan bumi Indonesia sebesar IDR 25.18 triliun (USD 1.8 miliar) dalam dua bulan pada tahun 2018 seperti yang disampaikan di atas dapat dibagi menjadi:

  • Eksplorasi: IDR 2.76 triliun (USD 197 juta)
  • Pengembangan: IDR 2.85 triliun (USD 204 juta)
  • Produksi: IDR17.49 triliun (USD 1.25 juta)
  • Administrasi: IDR 2.48 triliun (USD 177 juta)

Regulasi Minyak dan Gas di Indonesia

Tantangan regulasi dan proses birokrasi menjadi penghalang utama untuk investasi di sektor minyak dan gas di Indonesia. Sejak awal 2017, Indonesia telah secara aktif menyediakan solusi untuk mengurangi keseluruhan birokrasi dengan menyederhanakan regulasi dan menyediakan kejelasan lebih banyak. Klarifikasi ini termasuk pengenalan akan konsep “Kontrak Bagi Hasil Kotor”. Dengan adanya inisiatif kuat dari pemerintah, Indonesia optimis melihat investasi baru yang berdatangan.

Lanjutkan Membaca

Semarang: Gerbang menuju Jawa Tengah dan Pasar Internasional

Silakan isi form di bawah ini dan kami akan membalas email Anda dengan informasi mengenai sektor minyak dan gas di Indonesia.