• en
  • id

Sektor Makanan dan Minuman

Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ketiga di G20, memiliki pasar makanan dan minuman yang substansial dan menarik, serta juga permintaan akan makanan dan minuman yang sangat dinamis.

Selama periode Januari hingga September 2017, nilai investasi di sektor makanan dan minuman telah mencapai IDR 19.7 triliun (USD 1.4 miliar) untuk investasi asing dan IDR 27.9 triliun (USD 2 miliar) untuk investasi domestik. 

Sorotan

  • Pada tahun 2018, pemasukan dari pasar makanan dan minuman adalah sebesar IDR 3.6 triliun (USD 253 juta).
  • Kementerian Industri Indonesia memprediksi bahwa pada tahun 2018 sektor makanan dan minuman akan tumbuh sebesar 6.7%, dengan total IDR 63.25 triliun (USD 4.6 miliar).
  • Pada tahun 2018, Indonesia memiliki 256 juta konsumen dan nilai industri pengolahan makanan dan minuman diperkirakan berada di kisaran IDR 1,238 triliun (USD 92.3 miliar) dengan bahan mentah berkontribusi sebesar IDR 791.8 triliun (USD 59 miliar).
  • Pemasukan diharapkan menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR 2018-2022) sebesar 13.8%, menghasilkan volume pasar sebesar IDR 5.95 triliun (USD 423 juta) pada tahun 2022.
  • Ekspor makanan dan minuman global di Indonesia telah melebihi (IDR 112.4 triliun) USD 8 miliar.
  • Produk-produk di Indonesia yang memiliki banyak permintaan adalah makanan kemasan, buah, sayuran, makanan laut, makanan sehat, minyak masak, makanan gourmet, teh dan kopi.
  • Per tahun 2017, dengan lebih banyak orang yang memilih kenyamanan dari makanan kemasan, pertumbuhan penjualannya meningkat 9.4%.
  • Makanan halal memiliki peran signifikan, dan regulasi halal menjadi semakin nyata, karena 90% populasi Indonesia adalah Muslim.

tinjauan sektor makanan dan minuman di indonesia

Konsumen

Kaum Muslim yang taat membeli makanan Halal, yang memiliki persyaratan yang ketat untuk pengolahan, pengemasan dan pelabelan.

Undang-Undang Halal Indonesia mewajibkan semua produk (diperdagangkan, didistribusikan dan diimpor) di Indonesia untuk bersertifikasi halal. Persyaratan ini akan mulai berlaku efektif lima tahun setelah penetapan Undang-Undang Halal, yaitu tanggal 17 Oktober 2019. Produk halal yang tidak memiliki sertifikasi halal dalam tenggat waktu yang telah ditentukan akan dianggap tidak halal. Pelajari lebih jauh di sini.

Sektor makanan dan minuman adalah sektor di mana perusahaan-perusahaan di Indonesia memproduksi produk-produk bernilai tambah. Pertumbuhan sektor ini di Indonesia didukung oleh kebutuhan dasar manusia akan makanan dan minuman, populasi besar (265 juta orang pada tahun 2018), pendapatan yang lebih besar dan pengeluaran yang lebih tinggi untuk makanan dari kelas menengah yang jumlahnya meningkat.

Pengeluaran untuk Makanan dan Minuman

Konsumsi makanan dan minuman yang meningkat terkait erat dengan pengeluaran yang lebih tinggi karena urbanisasi gaya hidup dan beragam pola makan. Pertumbuhan di sektor ini juga didukung perkembangan infrastruktur ritel, terutama mal dan hypermarket. Pasar makanan olahan di Indonesia didominasi beberapa perusahaan lokal besar serta merek internasional seperti Nestle, Kraft dan Unilever. Perusahaan-perusahaan multinasional memasarkan produk-produk mereka secara menarik untuk kelas menengah di Indonesia yang berbau kesadaran akan kesehatan untuk memperkuat posisi pasar mereka di Indonesia.

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), terdapat kurang lebih 6,000 perusahaan makanan dan minuman berskala besar dan menengah yang mempekerjakan 765,000 karyawan; dan terdapat 1,61 juta penghasil mikro dan kecil dengan 3.75 juta karyawan. Per tahun 2016, pertumbuhan sebesar 6.9% terlihat di perusahaan-perusahaan berskala besar dan menengah dan pertumbuhan sebesar 11.5% untuk penghasil kecil.

Produk-Produk Populer

Pada tahun 2016, total minuman ringan yang dijual mendekati 25.8 miliar liter, yakni sebesar IDR 123.59 triliun (USD 8.8 miliar). Pertumbuhan industri minuman ringan di Indonesia berkisar 8-9% per tahun, dengan kopi siap minum dan air botolan menduduki tempat teratas.

Di sektor makanan, ada permintaan yang sangat kuat akan produk-produk seperti makanan kemasan, buah, sayuran, makanan laut, makanan gourmet dan makanan kaleng. Pasar untuk makanan kaleng dan kemasan telah tumbuh secara signifikan dengan kebanyakan konsumen lebih memilih kenyamanan yang didapat dari makanan dan minuman siap saji dalam kemasan. Pertumbuhan ini diharapkan terus berlanjut pada tahun 2018 dan seterusnya.

Ada juga permintaan untuk produk-produk baru tertentu seperti makanan ringan yang dikemas satuan dalam kontainer fleksibel, kopi atau teh dengan penyajian single, sereal untuk sarapan, dsb. Gaya hidup perkotaan yang terus berubah ini akan selalu membentuk pola konsumsi makanan dan minuman di Indonesia.

Sumber Daya Dibutuhkan

Saat ini Indonesia membutuhkan banyak bahan mentah untuk industri pengolahan makanannya. Oleh karena itu, permintaan ini membuka kesempatan lebar bagi pemasok bahan dari berbagai belahan dunia, terutama negara-negara tetangga. Industri pengolahan makanan terus tumbuh dan menawarkan potensi besar bagi investor asing.

Untuk satu tahun penuh selama 2018, Kementerian Industri RI menetapkan tujuan investasi sebesar IDR 53.18 triliun (kurang lebih USD 3.9 miliar) untuk sektor makanan nasional dan IDR 10.07 triliun (kurang lebih USD 735 juta) untuk industri minuman. Dengan demikian total investasi langsung untuk industri makanan dan minuman di Indonesia sangat positif yaitu sebesar IDR 63.25 triliun (USD 4.6 miliar).

Lanjutkan Membaca

Bagaimana Mendaftarkan Perusahaan Makanan dan Minuman di Indonesia

Bagaimana Membuka Restoran di Bali

 

Silakan isi form di bawah ini dan kami akan memberikan penawaran dengan tinjauan untuk sektor makanan dan minuman di Indonesia.