• en

Peralatan Medis

Populasi Indonesia yang berjumlah lebih dari 262 juta penduduk (pada awal tahun 2018) menempatkan Indonesia di peringkat keempat sebagai salah satu negara dengan populasi terpadat di antara 193 negara di dunia.

Menurut Bank Dunia, orang yang berusia 65 tahun dan 65 tahun ke atas di Indonesia telah mencapai 14.4 juta. Terdapat pertumbuhan sebesar 40% untuk orang tua pada tahun 2025, yang juga akan menempatkan Indonesia di bawah sorotan. Indonesia menjadi salah satu negara yang menua tercepat di Asia. Peningkatan mengejutkan ini akan berdampak besar terhadap level ekonomi untuk banyak industri, terutama di sektor perawatan kesehatan dan peralatan medis.

Sorotan

  • CAGR peralatan medis adalah 16.7 persen untuk 2013-2018.
  • Pada tahun 2018, pasar peralatan medis Indonesia diprediksi melebihi IDR 13.5 miliar (USD 1 miliar).
  • Total nilai peralatan medis impor diperkirakan mencapai IDR 28.4 triliun (USD 2,030 juta) pada tahun 2018. 
  • Untuk segmen “Perawatan Pribadi” yang berhubungan dengan sektor perawatan kesehatan, pemasukannya adalah sebesar IDR 6.3 triliun (USD 450 juta), dengan tingkat pertumbuhan sebesar 14.9 persen (CAFT 2018-2022), dengan hasil volumen pasar sebesar IDR 11 triliun (USD 785 juta) pada tahun 2022.
  • Kelas terbesar untuk impor medis adsalah produk konsumsi medis.

tinjauan sektor peralatan medis di indonesia

Pasar Peralatan Medis di Indonesia

Karena populasi yang menua dan banyaknya penyakit orang tua di Indonesia, seperti hipertensi, diabetes, stroke, arthritis, masalah kardiovaskular dan penyakit-penyakit kronis lainnya, ada permintaan besar dari pasar peralatan medis dan perawatan kesehatan.

Sektor ini diestimasi melebihi USD 1 miliar atau setara dengan IDR 13.5 triliun. Di antara figur ini, produk asing mengambil alih 95 persen pasar, hanya 5 persen untuk produk lokal.

Indonesia bergantung pada peralatan medis dan pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan lokal, terutama dari kelas menengah yang jumlahnya meningkat. Nilai total peralatan medis impor naik dari IDR 10.1 triliun (USD 726 juta) pada tahun 2015 menjadi IDR 14.5 triliun (USD 1,035 juta) pada tahun 2016, dan pada akhirnya meraih IDR 28.4 triliun (USD 2,030 juta) pada tahun 2018.

Peralatan medis impor dirancang menuju instrumen dan infrastruktur medis modern, seperti laser, CT scan dan peralatan diagnosa lainnya. Di sisi lain, produsen peralatan medis domestik kebanyakan membuat item dasar, seperti sarung tangan bedah, bantuan ortopedik, perban, dan furnitur rumah sakit.

Namun, sejak 2016, perusahaan Indonesia juga menjadi pembuat instrumen rumit, seperti sphygmomanometer, stetoskop, kateter urine, inkubator bayi, nebuliser, kursi gigi, EKG, reagen pengelompokan darah, kotak P3K, dan kit.

Peralatan Medis Kelas Menengah

Selain itu, manufaktur peralatan medis lokal di Indonesia juga mulai terlibat dalam teknologi menengah dengan biaya yang lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah, seperti peralatan ultrasound dan X-ray. Sebagai hasilnya, persaingan lebih terasa untuk meningkatkan kualitas perawatan kesehatan dan peralatan medis kelas menengah dalam hal volume dan nilai.

Perusahaan lokal seperti Indofarma dan Kalbe Farma telah meragamkan portofolio produk mereka dan bukan lagi sekadar manufaktur farmasi. Mereka memimpin dan mengembangkan peralatan medis mereka untuk dijual di Indonesia. Beberapa perusahaan dan inovator lokal lainnya juga berpartisipasi dalam IndoHCF Award 2017, menunjukkan inovasi peralatan medis mereka yang menyangkut pemeriksaan jantung dan ginjal.

Menurut Kementerian Kesehatan, manufaktur peralatan medis lokal diharapkan mampu menguasai peralatan medis dan perawatan kesehatan kelas menengah pada tahun 2035.

Institut Medis dan Rumah Sakit di Indonesia

Registrasi peralatan medis diatur dalam regulasi No. 1477/C/SK/IV/91, yang diawasi oleh Direktur Jenderal Makanan dan Obat di bawah Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan Indonesia bertanggung jawab menawar semua pengadaan rumah sakit umum untuk persediaan medis sekali pakai dan peralatan medis. 

Banyak institut dan klinik medis swasta yang telah dibuka di kota-kota besar mengalami pertumbuhan signifikan walaupun terjadi perlambatan ekonomi. Kebanyakan biaya medis adalah untuk sistem perawatan kesehatan swasta sebesar 53.4 persen dari total pengeluaran untuk perawatan kesehatan.

Pulau Jawa menawarkan standar tinggi untuk perawatan medis di Indonesia, terutama di ibu kota Jakarta. Kebutuhan akan layanan medis berkualitas tinggi menyebabkan pertumbuhan rumah sakit kecil dan swasta yang canggih.

Per tahun 2016, Indonesia memiliki total 2,601 rumah sakit, 988 milik swasta dan 1,613 dikelola sektor publik, menurut Kementerian Kesehatan Indonesia.

Investasi Asing dan Proyek yang Sedang Berlangsung 

Pada tahun 2017, investasi di industri layanan medis di Indonesia melonjak sebanyak tujuh kali lipat menjadi IDR 4.7 triliun (USD 343 juta) pada tahun 2017 dibandingkan pada tahun 2016. Investasi yang melambung ini berasal dari bisnis lokal baru maupun lama serta juga perusahaan internasional.

Ada 27 perusahaan baru yang memasuki industri peralatan medis Indonesia pada tahun yang sama, sehingga total jumlah perusahaan di industri ini menjadi 242. Perusahaan-perusahaan baru ini memproduksi total 294 jenis peralatan dan produk medis terkait. Investasi terbaru di industri peralatan medis Indonesia adalah pabrik manufaktur stent koroner senilai IDR 91.5 miliar (USD 6.7 juta) di Tangerang Banten; dan pabrik jahit bedah senilai IDR 16.8 miliar (USD 1.2 juta) di Cikarang, Jawa Barat.

Lanjutkan Membaca

Registrasi Produk Medis di Indonesia

Registrasi Halal bersama Cekindo

Bahkan produk medis yang didistribusikan di Indonesia tidak dibebaskan dari registrasi Halal. 
 

Silakan menghubungi kami untuk mendapatkan penawaran gratis jika Anda ingin memasuki pasar Peralatan Medis di Indonesia. Isi form di bawah ini dan kami akan membalas email Anda dengan penawaran dan tinjauan proses di industri Anda.