• en
  • id
  • zh-hans

Suplemen Makanan

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), pasar suplemen makanan dan kesehatan di Indonesia telah memberikan pemasukan sebesar lebih dari IDR 4.5 triliun (USD 318 juta).

Industri ini bernilai IDR 16.8 triliun (USD 1.2 miliar) dengan 80% produknya diimpor dari Amerika Serikat. Pasar suplemen makanan di Indonesia diproyeksi akan mencapai IDR 25.19 triliun (USD 1.8 miliar) pada tahun 2020.

Sorotan

  • Indonesia memiliki pertumbuhan produk suplemen kesehatan dan makanan kedua tertinggi di kawasan ASEAN, berkontribusi sebsar 35% terhadap Zona Ekonomi ASEAN.
  • Konsumen Indonesia akan meningkat dari 45 juta orang menjadi 135 juta pada tahun 2030.
  • Pasar suplemen makanan di Indonesia akan tumbuh 15 persen per tahun (CAGR 2018-2021).
  • Pendapatan per orang sebesar IDR 16,655 (USD 1.19) dihasilkan pada tahun 2018, sehubungan dengan figur total populasi di Indonesia.
  • Di Indonesia, terdapat lebih dari 200 perusahaan farmasi yang memproduksi suplemen makanan.
  • Pada tahun 2013, Indonesia mengadposi regulasi harmonisasi ASEAN untuk suplemen kesehatan obat tradisional (TMHS).

Penggerak Pertumbuhan

Suplemen makanan di Indonesia mencatat pertumbuhan nilai yang kuat pada tahun 2018. Ini karena konsumen Indonesia sekarang mulai mengubah kebiasaan mereka, dan kesadaran akan kesehatan yang meningkat dapat dirasakan di antara populasi kelas menengah di Indonesia. Studi yang dilakukan Nielsen menunjukkan bahwa jika berhubungan dengan promosi manfaat kesehatan, 81% konsumen Indonesia akan menghabiskan uang lebih banyak untuk membeli makanan sehat dan suplemen kesehatan. Ini menimbulkan permintaan substansial akan suplemen kesehatan dan makanan, sehingga memberikan kesempatan bagi manufaktur lokal dan internasional untuk memasuki sektor suplemen makanan dan kesehatan di Indonesia.

Konsumen kelas menengah merupakan faktor kunci yang menggerakkan penjualan suplemen makanan dan kesehatan pada tahun 2017 dan 2018. Ini berhubungan dengan pertumbuhan pesat kelas menengah dari hanya 37.7 persen pada tahun 2003 menjadi lebih dari 50 persen pada tahun 2020, yang tumbuh seiring dengan daya beli. Selain itu, perekonomian Indonesia meningkat sebesar 5.1 persen PDB pada tahun 2017 dan diharapkan untuk tumbuh sebesar 5.3 persen tahun ini.

Di atas semuanya itu, daya beli menerobos pada tahun 2017 – industri makanan dan minuman Indonesia (termasuk suplemen makanan) diprediksi tumbuh sebesar 8.5 persen setiap tahunnya menjadi IDR 1,400 triliun (USD 105.2 miliar). Investasi langsung juga diperkirakan mencapai kurang lebih IDR 63 triliun (USD 4.7 miliar) secara terus-menerus.

Suplemen Kesehatan dan Makanan Impor

Suplemen kesehatan dan makanan Amerika Serikat memiliki reputasi ternama di Indonesia. 80% pangsa pasar Indonesia didominasi oleh AS. Ini berarti di antara IDR 4.5 triliun (USD 318 juta) pendapatan dari suplemen makanan di Indonesia, produk yang diimpor dari AS berkisar IDR 3.5 triliun (USD 250 juta). Pasar suplemen kesehatan dan makanan impor berfokus di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Berdasarkan studi yang dilakukan Global Trade, prospek penjualan terbaik mencakup vitamin (terutama untuk anak-anak) dan suplemen yang meningkatkan esteika dan mencegah penyakit tertentu. Misalnya, suplemen untuk mengurangi berat tubuh dan membentuk tubuh, suplemen untuk penyakit kardiovaskular, hipertensi dan osteoporis, dan produk-produk yang meningkatkan stamina dan kehidupan seksual.

Sebagai catatan penting, 90% bahan yang digunakan dalam industri suplemen makanan dan kesehatan Indonesia masih diimpor, memberikan kesempatan luar biasa bagi investor lokal maupun asing.

Suplemen makanan halal yang tidak terdaftar akan menjadi non-halal pada tahun 2019. Cari tahu lebih jauh di sini

Suplemen Obat Kesehatan Tradisional dan Makanan

Multivitamin memimpin pasar dalam volume penjualan suplemen kesehatan dan makanan, tetapi obat tradisional masih tetap populer. Pada bulan Mei 2013, BPOM mengumumkan bahwa Indonesia memutuskan untuk mengadopsi terminologi untuk regulasi harmonisasi ASEAN untuk suplemen kesehatan obat tradisional (TMHS dalam bahasa Inggris). Kerangka regulasi TMHS menentukan suplemen makanan kesehatan dan mengatur suplemen kesehatan dan makanan sebagai sebuah sektor.

Memiliki populasi sebesar lebih dari 240 juta orang, Indonesia memiliki pertumbuhan produk suplemen kesehatan dan makanan kedua tertinggi di kawasan ASEAN, berkontribusi sebsar 35% terhadap Zona Ekonomi ASEAN. Dengan menerapkan peraturan ini, merek lokal maupun global untuk suplemen makanan dan kesehatan di Indonesia memiliki keunggulan kompetitif lain di pasar luar negeri.

Penjual dan Pengecer di Indonesia

Menurut Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia (APSKI), terdapat lebih dari 200 perusahaan farmasi yang memproduksi suplemen kesehatan dan makanan di Indonesia. Pengecer besar, terutama hypermarket dan supermarket, juga telah bergabung dengan pengecer lainnya untuk menjual produk kesehatan sebagai bagian dari strategi kompetitif mereka.

Lanjutkan Membaca

Lisensi Bisnis Impor di Indonesia

Registrasi Suplemen Makanan di Indonesia

Cekindo menyediakan layanan end-to-end untuk Suplemen Kesehatan dan Makanan, dan bantuan registrasi komprehensif lainnya berdasarkan kebutuhan Anda. Silakan isi form di bawah ini dan kami akan memberikan penawaran kepada Anda bersama dengan tinjauan proses industri Anda.