• en
  • id

Industri Alat Berat

Dengan fokus utama terhadap industri pertambangan, agribisnis, konstruksi dan kehutanan, sektor alat berat di Indonesia memiliki masa depan cerah pada tahun 2018, yang bisa dilihat dari kinerja positif dan pertumbuhan signifikan dari pemain-pemain utama dalam beberapa tahun belakangan ini. 

Distributor alat berat PT United Tractors (UT), pemain terbesar di industri alat berat, mampu meningkatkan penjualan sebesar 71% year-on-year (YoY) menjadi 1,488 unit selama setengah tahun pertama tahun 2017.

Sorotan

  • Pada tahun 2017, peralatan berat di Indonesia mencatat pertumbuhan yang meningkat tajam sebanyak dua digit.
  • Penjualan peralatan berat di Indonesia meningkat besar sebesar 62% menjadi 7,091 unit pada tahun 2017 yang tidak lengkap secara keseluruhan.
  • Produk impor mencakup sekitar 45% dari pasar peralatan berat di Indonesia.
  • Pembeli terbesar untuk peralatan berat adalah sektor pertambangan, mencakup 60% dari total penjualan.
  • Sejumlah manufaktur alat berat terkemuka di dunia telah membangun pabrik di Indonesia, termasuk dari Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok.
  • Pasar peralatan konstruksi Indonesia memiliki nilai yang telah melebihi IDR 95.9 triliun (USD 6.84 miliar) pada tahun 2017.

tinjauan sektor industri alat berat di indonesia

Pertumbuhan Kuat Industri Alat Berat di Berbagai Sektor

Permintaan akan alat berat terus kuat akibat adanya permintaan global akan komoditas. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan kuat sektor industri yang menggunakan alat berat, seperti pertambangan, agribisnis dan kehutanan. Menurut Asosiasi Perusahaan Pengelola Alat Berat Indonesia, produk impor mencakup 45% dari pasar alat berat, dan produk lokal memegang mayoritas pangsa pasar sebesar 55%.

Sektor Pertambangan

Sektor pertambangan menunjukkan pertumbuhan tertinggi untuk alat berat. Sehubungan dengan volume dan pangsa pasar pada tahun 2017, volume penjualan mesin tambang meningkat menjadi 3,475 unit, mencakup 173% YoY. Ini disebabkan oleh peningkatan yang kuat sebesar 37% YoY untuk harga batu bara menjadi di atas IDR 1.3 juta (USD 90) per ton. Pulihnya harga nikel, timah, besi dan emas juga meningkatkan permintaan akan mesin tambang. Terdapat peningkatan signifikan untuk pangsa pasar mesin, yaitu dari sebesar 29% pada tahun 2016 menjadi 49% pada tahun 2017.

Sektor Agribisnis

Untuk sektor agribisnis, permintaan akan alat berat tinggi dari perkebunan minyak kelapa sawit. Peralatan perkebunan memiliki pertumbuhan volume tertinggi kedua yaitu 91% YoY, terutama disebabkan oleh meningkatnya produksi minyak kelapa sawit mentah. Minyak kelapa sawit mentah semakin banyak permintaan baik di pasar domestik maupun internasional. Malaysia dan Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Bersama, hasil produksi kedua negara mencakup 85.7% dari hasil global. Permintaan yang terus meningkat mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi dan membuka perkebunan baru—sehingga meningkatkan kebutuhan akan peralatan dan mesin berat.

Penjualan peralatan berat kepada sektor kehutanan juga tumbuh sebesar 25% menjadi 993 unit, digerakkan oleh harga bubur kertas yang lebih tinggi yaitu IDR 12.8 juta (USD 911) per ton pada tahun 2017. Ekspansi perkebunan akasia juga mendorong peningkatan penjualan untuk peralatan kehutanan.

Sektor Konstruksi

Salah satu prioritas perkembangan untuk pemerintah Indonesia adalah sektor konstruksi. Pemerintah telah merencanakan proyek infrastruktur skala besar dalam lima sektor prioritas: transportasi, jalur pipa gas, tenaga listrik, pasokan air dan telekomunikasi. Proyek-proyek ini dirancang untuk menarik investasi asing dan meningkat pertumbuhan ekonomi tahunan.

Melihat besarnya potensi industri alat berat di Indonesia, pemain bisnis sekarang mulai mempersiapkan strategi untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan yang tersedia untuk memperluas jenis produk, membuka cabang baru, menyediakan solusi inovatif dan meningkatkan kualitas layanan purna jual.

Pemain Internasional Utama untuk Alat Berat

Sejumlah manufaktur alat berat terkemuka di dunia telah membangun pabrik di Indonesia, seperti mereka yang berasal dari Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok, misalnya Sumitomo, Doosan, dan Sany. Beberapa investor Jepang juga berencana merelokasi operasi manufaktur mereka ke Indonesia.

Meningkatnya permintaan akan alat berat di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi produsen alat berat seperti Sany Heavy Industry Co. dari China Ltd. untuk berinvestasi sebesar IDR 2.8 triliun (USD 200 juta) untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Sany Group berencana menjadikan Indonesia pusat produksi alat berat mereka untuk memenuhi permintaan pasar di kawasan ASEAN, Jepang dan Australia.

World Market Intelligence menunjukkan bahwa nilai pasar peralatan konstruksi Indonesia telah mencapai lebih dari IDR 95.9 triliun (USD 6.84 miliar) pada tahun 2017, meningkat dari estimasi awal sebesar IDR 58.9 triliun (USD 4.2 miliar) pada tahun 2012, dan memberikan kesempatan sempurna bagi investor asing.

Lanjutkan Membaca

Semarang: Masa Depan Manufaktur di Indonesia

Industri Pertambangan di Indonesia

Silakan isi form di bawah ini dan kami akan memberitahu Anda proses memasuki sektor industri alat berat di Indonesia.