• English

Prospek Komoditas Indonesia sebagai Acuan Harga untuk Dunia

Sebagai negara agraris, Indonesia mempunyai kelimpahan besar sumber daya alam. Banyak komoditas Indonesia – komoditas baik lunak dan keras – memiliki peringkat dunia. komoditas Indonesia menyumbang sekitar seperempat dari Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB) dan penerimaan pemerintah pada tahun 2007. Hal ini telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu eksportir komoditas global terbesar. Beberapa fakta menarik tentang komoditas Indonesia

Minyak Sawit

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. ekspor minyak sawit mencapai US $ 19 milyar pada tahun 2013 dan account untuk 3,8 juta pekerjaan penuh waktu. Produksi minyak sawit di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dengan pertumbuhan rata-rata 12,3%. Pada tahun 2013 produksi minyak sawit di Indonesia mencapai 27,0 juta metrik ton minyak sawit mentah. Saat ini, Indonesia adalah pemimpin dunia dalam produksi minyak sawit. Bahkan, Indonesia dan Malaysia sama-sama menghasilkan lebih dari 85 persen dari pasokan dunia.

Karet

Produksi karet dunia pada periode 1995-2011 meningkat sebesar 1,7%. Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua setelah Thailand. Pada tahun 2002, Indonesia mampu memproduksi sekitar 1,6 juta ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 2,8 juta ton, maka telah menjatuhkan kembali pada tahun 2009 menjadi 2,5 juta ton. Selain itu, Indonesia saat ini memiliki luas 2,93 juta hektar yang ditujukan untuk perkebunan karet. Menurut Research Institute Karet Indonesia pada tahun 2015 dan 2020 Indonesia diproyeksikan untuk menghasilkan 3,5 juta ton s / d 3,8 juta ton karet.

Kokoa

Indonesia merupakan produsen terbesar ketiga kakao di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi tertinggi mencapai 621 873 ton pada tahun 2006. Sejak 2011 telah terjadi revolusi kakao di Indonesia, mengubah negara di produsen utama. Ekspor meningkat dari sekitar 100.000 ton pada 2009 menjadi lebih dari 300.000 ton pada tahun 2012. Ada kemungkinan bahwa Indonesia bisa menjadi eksportir kakao terbesar di dunia.

Kakao Indonesia memiliki nilai penting sebagai andalan ekspor: Ini adalah penghasil devisa terbesar ketiga setelah minyak dan karet untuk sektor pertanian, dan mendukung lebih dari 1,3 juta kepala keluarga petani nasional.

Batu Bara

Indonesia merupakan salah satu negara pertambangan potensial terbesar di dunia, rumah bagi ketiga terbesar cadangan batubara dan nikel global. Berdasarkan penelitian dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kenaikan produksi batubara Indonesia setiap tahunnya. Pada tahun 2003, Indonesia memproduksi sekitar 121 juta ton dan pada tahun 2008 produksi dua kali lipat menjadi 240 juta ton. Menariknya, pada tahun 2012, produksi batubara Indonesia adalah tiga kali lebih dari 2003, yang merupakan sekitar 386 juta ton. Indonesia kini dianggap negara batubara memproduksi terbesar kelima di dunia, dengan produksi 376 juta ton pada tahun 2011.

indonesia-agriculture

Menentukan Harga Komoditas

Komoditas ini memiliki potensi untuk memimpin Indonesia menjadi dominan global, setidaknya dalam produksi Indonesia, namun pada kenyataannya harga komoditas ditentukan oleh negara-negara lain juga karena mereka juga konsumen.

Dalam perdagangan komoditas global, negara-negara konsumen akan selalu berusaha untuk menekan harga komoditas utama Indonesia, karena manfaat mereka, tentu saja. Penyebab utama dari negosiasi harga komoditas lemah dalam produksi Indonesia adalah ketidakmampuannya untuk membangun harga domestik, yang menyebabkan persaingan harga antara produsen komoditas.

Misalnya, dalam produksi komoditas Indonesia seperti kakao, kopi dan batubara, dari Desember 2011 sampai Februari 2013, harga kemungkinan akan terus menurun. harga kakao turun dari US $ 2.150 menjadi US $ 2.130, turun 1%. harga kopi turun dari US $ 220 menjadi US $ 150, turun 30%, dan harga batu bara turun menjadi US $ 95 dari US $ 115, turun 17%.

Dukungan Pemerintah Imdonesia

Kementerian Perdagangan mendorong terciptanya harga referensi dari bursa komoditas. Peraturan tentang ekspor timah (Peraturan Menteri Perdagangan Indonesia Nomor 32 / M-Dag / Per / 6/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 78 / M-Dag / Per / 12 / 2012 tentang ekspor) mengharuskan ekspor harus melalui perdagangan di bursa komoditas. Diharapkan pemerintah Indonesia terus mendukung dan menciptakan transparansi harga komoditas untuk memberikan petani kesempatan untuk berkontribusi pada pembangunan Indonesia.

Pertukaran dan Fasilitas Penunjang

Peran tukar diharapkan menjadi titik acuan dalam pengelolaan harga komoditas dan diperkirakan akan memicu kehadiran tindakan lain, seperti:

  • Manajemen cadangan komoditas melalui sistem pergudangan yang terintegrasi dengan perdagangan pada mekanisme pertukaran
  • Standarisasi kualitas komoditas berdasarkan standar yang berlaku di pasar global
  • Kemudahan akses ke perdagangan global, di mana pintu untuk perdagangan luar negeri dan bursa komoditas dalam negeri terbuka
  • Dimasukkannya dana untuk pengelolaan uang komoditas pasar saham untuk petani, sehingga petani mampu menahan cadangan komoditas dan tidak membebaskan mereka dengan harga yang tidak menguntungkan ketika ada produksi berlimpah.

Faktor-faktor ini akan menentukan kekuatan perdagangan komoditas Indonesia di pasar global.

Mempercepat Pembentukan Referensi Harga Komoditas 

Untuk menjadi kuat di pasar global, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar:

  • Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang cukup besar harus mengambil keuntungan dari posisi ini sebagai tawar-menawar untuk memperoleh harga referensi bagi produsen.
  • Potensi komoditas utama Indonesia yang cukup menjanjikan di pasar global. Namun, mereka harus dikelola – bersama dengan manajemen harga efisien – untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
  • Meningkatkan peran bursa komoditas di Indonesia sebagai harga referensi, sehingga mengurangi dominasi konsumen harga negara.
  • Selain pasar komoditas, sekarang adalah waktu untuk benar-benar membangun fasilitas seperti gudang, mengembangkan teknologi informasi untuk akses pasar, dan mengintegrasikan pembiayaan perdagangan komoditas sehingga Indonesia dapat meningkatkan daya tawar secara global.
  • Peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia mendukung terciptanya efisiensi di pasar domestik untuk meningkatkan daya saing global.

Hubungi Konsultan Kami