• English

Memahami Kondisi Rupiah dan Stabilitas Ekonomi Indonesia pada Awal 2014

Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar, atau setidaknya meminimalkan volatilitas, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pada awal 2014, rupiah menanjak menjadi 12,100 per USD, setelah tercatat diakhir tahun 2013 dengan nilai tukar depresiasi sekitar 5.77 % (mtm) menjadi Rp. 11,963 per USD. Berdasarkan pada penelitian dan analisa pasar, depresiasi dipicu karena adanya sentimen negatif pasar mengenai pengurangan rencana moneter AS (pelonggaran) dan juga karena efek defisit neraca Indonesia

Efek flutuasi dalan nilai tukar berlawanan dengan Dollar pada perdagangan internasional dapat dilihat dari sisi permintaan dan penyediaan. Untuk sisi permintaan, ketika rupiah melemahkan permintaan untuk produk domestik, dan eksport akan meningkat. Dalam sisi penyediaan, penolakan terjadi terhadap nilai Rupiah yang memberikan hasil terhadap peningkatan import dari bahan mentah,

hasil akhor produksi akan jatuh dan akhirnya akan berujung pada inflasi. Kontribusi ini untuk menolak volume dari transaksi perdagangan internasional, yang mana akan berdampak pada keseimbangan perdagangan. Antisipasi harus dilakukan untuk menghindari jalan yang menyesatkan oleh para pelaku spekulasi untuk keuntungan mereka. Angka pertukaran uang (pertukaran mata uang) harus dilanjutkan untuk di awasi. Jangan memberikan celah bagi para pelaku spekulasi  yang membesarkan masalah mengenai USD bukan merupakan bagian dari pasar karena dinilai USD memiliki harga yang sangat tinggi

Berdasarkan pada survey pasar  di Indonesia, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mata uang regional lainnya. Minggu ini, Dollar di BI memiliki rate tengah sebesar Rp. 12,025 naik dari angka Rp. 12,005 per USD. Menurut, Bank Indonesia dikatakan bahwa nilai tukar pada Januari 2014 masih berada di bawah tekanan dari adanya pengurangan aktivitas terhadap penukaran mata uang asing di awal tahun pada akhir tahun sebelumnya

Efek dari tingkat penurunan tukar pada sektor saham mencakup:

• Investor ragu-ragu untuk berinvestasi karena USD memiliki nilai yang tinggi terhadap rupiah.

• Kinerja Bursa Efek anjlok akibat perrubahan yang cepat.

• Harga saham menurun dalam indeks harga saham

Selain sektor saham, ketidakstabilan nilai tukar juga memiliki dampak negatif pada perekonomian Indonesia. Sebagai contoh, selama krisis ekonomi tahun 1998, ketidakstabilan dan bahkan terjadi goncangan nilai tukar di pasar valuta asing dan membuat harga pangan naik, dan akhirnya menyebabkan inflasi di Indonesia sehingga akhirnya terus merangkak naik.

Berdasarkan hasil penelitian riset pasar Indonesia, volatilitas rupiah di pasar perbankan global meningkat. Pada awal Januari, rupiah ditutup naik, karena dolar AS melemah terhadap mata uang utama. Peningkatan yield obligasi telah berkontribusi terhadap negatif tentang nilai rupiah. Pelaku pasar memiliki kekhawatiran atas pasar mata uang terhadap yang pergerakan dolar AS lebih tinggi, sebagai akibat dari sentimen tentang sesi FOMC. Hal ini berlaku tidak hanya tentang dolar, tetapi juga tentang dampak melemahnya mata uang emerging market lainnya.

Inflasi di minggu pertama Januari 2014 tercatat sebesar 0,77 persen bulan lebih dari sebulan, dan tahun 8,1 persen dibanding tahun. Angka tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 0,55 persen pada Desember 2013. Tingkat inflasi tahunan mencapai 8,38 persen. Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 7,5 persen. Tingkat bunga pinjaman kemudahan dan deposit kemudahan tetap masing-masing 5,75 persen dan 7,5 persen. Kebijakan tersebut dianggap konsisten dengan upaya diarahkan target inflasi sebesar 3,5-5,5 persen pada tahun 2014, serta kontrol dari akun defisit saat ini untuk tingkat yang lebih sehat dan lebih berkelanjutan. Kenaikan BI rate dipengaruhi oleh banyak hal, bukan hanya faktor domestik pertumbuhan dan inflasi, tetapi juga faktor eksternal, yang sangat mempengaruhi tingkat BI. faktor eksternal seperti melemahnya pertumbuhan ekonomi dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga harus diantisipasi.

Apa prediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS untuk bulan mendatang?

Nasib rupiah terhadap dolar AS (AS) pada 2014 mungkin akan lebih baik dari tahun lalu. Tingkat inflasi yang relatif terkendali dalam adalah tanda positif dan rupiah yang positif akan mengarah pada tingkat ekuilibrium baru. Komite Ekonomi Nasional (KEN) memperkirakan nilai tukar terhadap dolar AS akan berada di kisaran 10.500 hingga 11.500 per US dollar. Kebijakan pelonggaran diperlukan karena dasar dari pemulihan ekonomi AS semakin membaik. Selanjutnya, kondisi ini akan merangsang ekonomi global membaik. Selain itu, AS masih merupakan mesin utama ekonomi dunia. Investor akan mencari peluang yang memberikan hasil yang lebih tinggi. Indonesia tetap menjadi negara dengan prospek pertumbuhan tertinggi karena ada peluang yang cukup besar untuk aliran modal ke negara tersebut.

Hubungi Konsultan Kami