• en

Kerajinan dan Furnitur

Seni ukir kayu kreatif merupakan bagian dari tradisi Indonesia dan telah dilakukan sejak zaman dulu.

Sorotan

  • Seni ukir kayu dan furnitur telah menjadi bagian dari tradisi kaya dan kebudayaan Indonesia.
  • Berdasarkan bahan mentah yang digunakan dalam produk ekspor, furnitur kayu masih menjadi komoditas ekspor terbesar.
  • Pada tahun 2018, pemasukan dari segmen furnitur adalah sebesar IDR 11 triliun (USD 779 juta), dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 19.1% (CAGR 2018-2022), menghasilkan IDR 22 triliun (USD 1,568 juta) pada tahun 2022.
  • Ekspor furnitur Indonesia mencapai estimasi sebesar IDR 28 triliun (USD 2 miliar), yang merupakan 1.5% dari ekspor global.
  • Sistem Verifikasi Legalitas Kayu atau INDO-TLAS mulai efektif sejak tahun 2013 untuk memastikan pasar kayu global memenuhi legalitas produk kayunya.
  • Pemain global IKEA dari Swedia memasuki pasar Indonesia pada tahun 2014.

tinjauan sektor kerajinan dan furnitur di indonesia

Potensi Seni Ukir Kayu

Saat ini seni ukir kayu di Indonesia bisa ditemukan dalam bentuk patung, kerajinan dan furnitur. Pasokan kayu yang besar dan tradisi seni ukir kayu menjadikan Indonesia tempat terbaik untuk menemukan produk furnitur kreatif. Menurut Kementerian Usaha Kecil Menengah, untuk setiap investasi sebesar IDR 14.2 triliun (USD 1 miliar), sekitar 500,000 lapangan kerja tercipta untuk sektor furnitur dan kerajinan.

Furnitur dan Kerajinan Kayu di Jawa dan Bali

Banyak orang, terutama di Jawa dan Bali, terkenal akan keahlian seni ukir kayu mereka. Jawa juga merupakan salah satu lokasi utama untuk kayu, dan kerenanya produksi furnitur dan kerajinan kayu terkonsentrasi di area Jawa Tengah—Jepara, Klaten, Sukoharjo, Semarang, Solo dan Cirebon.

Menarik untuk tahu bahwa furnitur Indonesia dihasilkan dari berbagai bahan mentah, bukan hanya kayu. Bahan-bahan yang dimaksud termasuk rotan, gergajian, plastik dan bahkan besi. Secara tahunan, industri furnitur kayu Indonesia membutuhkan 4.5 juta m2 kayu. Spesies kayu utama untuk ukiran adalah kayu jati, mahogani dan rosewood yang dikenal juga sebagai sonokeling.

Pengrajin Lokal

Industri furnitur dan kerajinan Indonesia telah lama dipertimbangkan hanya sebagai surga ekspor. Namun, konsumsi pribadi meningkat dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebagai hasilnya, potensi pasar domestik menjadi semakin besar. Setiap tahun, penjualan domestik Indonesia untuk furnitur dan kerajinan bernilai IDR 9.8 triliun (USD 700 juta).

Sektor kerajinan dan furnitur Indonesia mencakup lebih dari 3,500 perusahaan, tetapi angka sesungguhnya untuk perusahaan kecil dan menengah di sektor ini jauh lebih tinggi, dan banyak dari mereka yang dimiliki investasi langsung asing secara parsial. Dengan biaya rendah untuk produksi massalnya, merek furnitur lokal seperti Olympic Furniture, Ace Hardware, dan Informa mendominasi pasar Indonesia.

Masuknya Raksasa Furnitur dari Luar Negeri

Pada tahun 2014, masuknya IKEA dari Swedia juga memberikan dampak besar di sektor ini, sekali lagi membuktikan besarnya potensi yang ditawarkan industri ini. IKEA bertujuan membuka tiga toko di Indonesia dengan total investasi IDR 4.2 triliun (USD 300 juta) dalam beberapa tahun ke depan. Toko IKEA pertama bernilai sekitar IDR 1.75 triliun (USD 125 juta) dan telah dibuka di Alam Sutera, Tangerang, Banten. Dua toko lainnya akan dibuka di Gandaria City dan Pondok Indah di Jakarta.

Ekspor Furnitur dan Kerajinan Kayu

Menurut data Biro Pusat Statistik, ekspor furnitur dan kerajinan kayu Indonesia mencapai IDR 28 triliun (USD 2 miliar) tahun ini. Produk-produk ini diekspor ke pasar-pasar tradisional di Amerika, Eropa dan Tiongkok serta pasar-pasar non tradisional di Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur. 

Untuk kerajinan sendiri, ekspor ke destinasi-destinasi tersebut mencakup 45% dari total perdagangan, yaitu IDR 4.22 triliun (USD 301 juta). Destinasi-destinasi yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan Hong Kong. Berdasarkan bahan mentah yang digunakan dalam produk-produk ekspor, furnitur kayu masih dianggap sebagai yang terbesar dengan 59.5%, diikuti oleh logam (8.1%0), rotan (7.8%), plastik (2.3%), bambu (0.5%) dan lainnya (21.3%).

Lebih lanjut lagi, negara-negara yang berpotensi untuk ekspor furnitur dan kerajinan yang ditangani oleh perusahaan kecil dan menengah dengan bantuan dari Kementerian Usaha Kecil Menengah adalah Singapura, Australia, India, Pakistan, Saudi Arabia, Jerman, Meksiko, Spanyol, Afrika Selatan, Korea Selatan dan Mongolia.

INDO-TLAS

INDO-TLAS memiliki sistem penelusuran dalam banyak pemangku kepentingan untuk memastikan legalitas kayu yang diperdagangkan di Indonesia. Sistem ini dikembangkan untuk mendukung penerapan peraturan pemerintah mengenai perdagangan Indonesia. Semua kayu yang berasal dari hutan milik pemerintah maupun swasta harus memiliki verifikasi legalitas, untuk menjamin asal bahan mentah. Begitu pula dengan produk akhir dari materi ini yang harus melalui audit legalitas juga.

Lanjutkan Membaca

Mendirikan Perusahaan di Bali: Lisensi Apa Saja yang Anda Butuhkan?

Sektor-Sektor Terbaik untuk Berinvestasi di Semarang

Silakan isi form di bawah ini dan kami akan memberikan Anda penawaran serta tinjaun untuk sektor kerajinan dan furnitur di Indonesia.