• en

Pertanyaan Yang paling Sering Ditanyakan Mengenai Sertifikat Halal

Pertanyaan Yang paling Sering Ditanyakan Mengenai Sertifikat Halal Review by Michal Wasserbauer on 9. 11. 2016 Company Registration in Indonesia, Market Research in Indonesia, Work Permit in Indonesia, Product Registration in Indonesia, Local Partner Selection in Indonesia, Trade Mission in Indonesia, Company Formation in Indonesia, Company Establishment in Indonesia, Company Set Up in Indonesia, Payroll Outsourcing in Indonesia, Tax Reporting in Indonesia, Medical Product Registration in Indonesia, Medical Device Registration in Indonesia, Cosmetic Registration in Indonesia, Food Supplement Registration in Indonesia.
Rated
Warning: rand() expects exactly 2 parameters, 1 given in /home/cekindob/public_html/cekindo.com/wp-content/themes/cekindo_2016/single.php on line 30

Pembahasan mengenai halal di Indonesia sangatlah sensitif, sebagai negara yang didominasi oleh Muslim, membuat Sertifikat Halal diperlukan di Indonesia.

Dibawah ini merupakan pertanyaan yang sering diajukan mengenai Sertifikat Halal di Indonesia, terutama untuk produk kosmetik.

1. Bahan kosmetik sering kali dibuat dalam industri manufaktur tanaman. Akankah peraturan halal tersebut berlaku juga untuk bahan baku makanan? Apakah produk kosmetik perlu untuk dilakukan pemisahan (terpisah dari bahan haram) dan akankah air yang digunakan untuk produksi juga perlu dimurnikan dengan bahan bersertifikat halal?

Benar, hal ini juga berlaku untuk bahan makanan. Dan produk kosmetik perlu dilakukan adanya pemisahan (terpisah dari bahan haram), termasuk juga air yang digunakan untuk produksi. (Baca Artikel berikut Bagaimana cara untuk registrasi produk di Indonesia).


2. Gelatin yang terbuat dari babi apakah dianggap halal?

Babi dan gelatin dari daging babi tidak halal. Produk diharuskan untuk tidak memiliki bau atau rasa yang telah dinyatakan Haram/dilarang oleh MUI.


3. Apakah MUI melakukan investigasi terhadap semua bahan mentah dari produk kosmetik? Seberapa jauh investigasi yang mereka lakukan?

Iya, Mereka melakukan investigasi tersebut. Tim MUI akan mengadakan audit dan survey ke tempat industri manufaktur untuk melakukan investigasi terhadap proses produksi. Mereka akan memastikan bahwa fasilitas produksi tersebut tidak terkontaminasi dengan bahan/tidak halal/ tidak suci. Fasilitas produksi dapat digunakan secara bergantian untuk menghasilkan produk yang bersertifikasi dan produk yang tidak bersertifikasi selama produk tersebut tidak mengandung sisa-sisa hasil pengolahan dari daging babi. Oleh karena itu, diperlukan adanya prosedur untuk memastikan bahwa tidak terjadi adanya kontaminasi antara produk dengan babi.


4. Berapakah biaya yang dikenakan untuk mendapatkan sertifikat untuk 1 produk kosmetik?

MUI tidak dapat memastikan besarnya biaya untuk mendapatkan sertifikat sebelum dilakukan pengajuan aplikasi untuk mendapatkan sertifikat halal.


5. Bagaimana Sertifikat Halal ini dapat berbeda dari negara Islam di timur tengah?

Regulasi dan peraturan sertifikasi halal dapat berbeda-beda untuk setiap negara. Semua produk yang masuk, keluar, dan diperdagangkan di dalam kawasan negara Indonesia harus memiliki sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh MUI.


6. Akankah sertifikasi dari MUI akan diakui di seluruh negara islam?

Kami tidak dapat memastikan karena tergantung pada setiap negara. Namun, LPPOM MUI memiliki mitra untuk Sertifikasi Halal untuk beberapa negara yang mana Sertifikat Halal tersebut diakui oleh badan sertifikasi halal hanya untuk produk yang dikeluarkan di negara yang memiliki badan sertifikasi halal, kecuali untuk produk yang dihasilkan di Eropa dapat menggunakan Sertifikat Halal oleh badan sertifikasi halal yang ada di Eropa.


7. Bisakah kami menjual Kosmetik tanpa ada sertifikat halal di Indonesia? Apakah anda memiliki penelitian mengenai hasil dari adanya behavior konsumen terhadap produk bersertifikasi dan tidak bersertifikasi?

Karena regulasi belum di implementasikan, maka anda dapat tetap dapat menjual produk kosmetik tanpada ada Sertifikasi halal. Namun, ketika regulasi diberlakukan, maka produk tersebut harus di setifikasi untuk memenuhi regulasi. Dikarenakan kebanyakan populasi di Indonesia merupakan orang muslim, maka mereka akan mencari untuk produk bersertifikasi.


8. Untuk Peraturan halal yang akan datang, dinyatakan bahwa “Barang Kebutuhan Harian” (produk konsumen) harus memiliki sertifikasi halal dalam beberapa tahun setelah diberlakukannya peraturan tersebut. Hal ini masih belum jelas, jenis Barang / produk konsumen apa. Apakah mungkin untuk mendapatkan penjelasan dari hal tersebut? Contoh, apakah termasuk dari barang yang di beli(Supermarket, toko konsumen, dll) atau ini hanya berhubungan dengan makanan & minuman, kesehatan, kosmetik, produk kimia seperti yang tercantum di peraturan?

Berdasarkan regulasi yang berlaku, produk dan barang atau layanan yang menyangkut dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia, produk biologis, produk rekayasa genetika, dan juga produk yang dapat dipakai, digunakan, atau digunakan untuk umum, yang mana kami yakin bahwa produk tersebut berada di supermarket, toko konsumen, dll.


9. Untuk Peraturan halal yang akan datang, dinyatakan bahwa “kimia” harus memiliki sertifikasi halal dalam beberapa tahun setelah diberlakukannya peraturan tersebut. Hal ini masih belum jelas jenis kimia apa yang dimaksudkan. Apakah ini hanya berhubungan dengan makanan, kesehatan, kosmetik, barang kimia seperti yang tercantum di peraturan?

Dikarenkan regulasi tersebut masih dalam proses pembuatan, untuk sekarang masih belum dijelaskan secara terperinci terkait implementasi peraturan tersebut pada produk halal.


10. Jika saya ingin mengirimkan produk kosmetik ke Indonesia, perlukah saya untuk mendapatkan sertifikat halal?

Bukanlah sebuah kewajiban untuk mendapatkan sertifikat halal untuk negara di luar Indonesia. Walaupun produk tersebut halal di negara lain, namun produk tersebut tetap harus bersertifikasi halal oleh MUI.


11. Bagaimana dengan bahan mentah dari suplier saya untuk bahan pembuatan kosmetik, apakah suplier saya juga harus perlu untuk mendapatkan sertifikat halal?

cosmeticsBahan yang digunakan dalam proses produksi terdiri dari bahan mentah, bahan yang diproses, bahan tambahan, dan bahan lainnya. Oleh karena itu, bahan dari suplier anda harus di kategorikan sebagai bahan halal dan bukan bahan haram menurut syariat.

 


12. Apakah proses sertifikasi halal sama seperti Malaysia?

Di Indonesia, Sertifikasi halal di dokumentasikan oleh pelaku bisnis untuk diserahkan ke BPJPH(Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal), setelah itu akan ada inspeksi atau uji coba untuk produk halal yang diusulkan dalam Fatwa Halal. Dalam Hal Fatwa Halal, akan ditentukan apakah produk tersebut dapat digunakan untuk operasional bisnis sebagai produk halal, BPJPH akan mengeluarkan surat Sertifikat Halal.


13. Jika perusahaan saya memiliki sertifikat halal untuk Eropa atau Malaysia, apakah ini dapat digunakan juga untuk di Indonesia?

Hal ini baik adanya karena MUI dapat mengetahui sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh negara lain. Namun produk tersebut tetap harus tetap memiliki sertifikasi halal oleh MUI.


14. Apakah ada 1 organisasi yang dapat menyediakan sertifikasi kosmetik untuk negara Indonesia + Malaysia + Negara Arab?

Tidak, tidak ada. Setiap negara memiliki badan sertifikasi halal yang mengatur sertifikasi halal untuk produk


15. Bagaimana cara mendapatkan sertifikat halal untuk kosmetik?

Lihat prosedurnya disni “Sertifikasi Halal di Indonesia”.


16. Jika sebuah perusahaan memproduksi pembersih tangan yang mengandung Ethyl Alcohol. Apakah mungkin untuk perusahaan tersebut untuk mendapatkan sertifikasi halal untuk produk tersebut?

Ya hal ini dapat dilakukan, selama Ethyl Alcohol tersebut tidak berasal dari industri khamr.


17. Badan internasional mendorong untuk membuat sertifikasi namun bukan sebuah kewajiban. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia menerima rekomendasi mereka?

Indonesia mengharuskan sertifikasi halal sebagai sebuah sertifikat yang wajib dimiliki.


18. Apakah mendapatkan sertifikat halal merupakan sebuatu kewajiban untuk kosmetik yang di import di Indonesia.

Berdasarkan regulasi terbaru bahwa setiap prduk yang masuk, keluar, dan diperdagangnkan di dikawasan Indonesia harus memiliki sertifikasi halal dimana  produk tersebut berhubungan dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia, produk biologis, produk rekayasa genetik, dan juga produk yang kita kenakan, gunakan, dipakai untuk umum.


19. Bagaimana dengan persyaratan untuk bahan makanan? haruskan di daftarkan untuk sertifikat halal? atau hanya perlu untuk memenuhi persyaratan tertentu? Bisakah memberikan panduan dalam versi bahasa inggris atau link web untuk bahan makanan?

quality control - cekindoBahan makanan tidak perlu untuk mendapatkan sertifikat halal. Namun bahan makanan tersebut harus dikategorikan sebagai bahan halala (sesuai persyaratan yang berlaku), jika tidak maka merupakan bahan haram sesuai dengan syariat. kami tidak memiliki panduan atau website untuk informasi bahan makanan. Peraturan terbaru mengenai sertifikasi halal di Indonesia tercantum pada peraturan nomor 33 tahun 2014 mengenai produk halal.

 


20. Boleh saya tahu perbedaan dari proses antara produk yang telah memiliki sertifikat halal?

Walaupun suatu produk telah menerima sertifikat halal di negara lain, Namun produk tersebut harus tetap memiliki sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI.


21. Bisakah saya mendaftarkan kosmetik halal di Indonesia?

Ya, anda dapat melakukannya.


22. Dapatkah anda memberikan contoh produk haram untuk produk kosmetik?

yang dapat di klasifikasikan sebagai produk haram untuk kosmetik tidak hanya mengandung bahan haram, produk tersebut juga harus aman bagi konsumen, tidak mengandung merkuri atau bahan lain yang dapat membahayakan atau menyebabkan penyakit. Contoh untuk produk kosmetik yang haram: Pemulas bibir yang mengandung kolagen babi.


23. Bisakah Anda jelaskan khususnya mengenai produk-produk di Eropa?

  • Harus melewati proses sertifikasi ketika obervasi lapangan (halal-audit) termasuk seluruh proses produksi dari bahan baku, produksi, kemasan dan penyimpanan.
  • Produsen harus menyediakan analisa dengan rinci menyangkut produk tersebut(daftar bahan baku yang digunakan).
  • Produsen harus menyatakan secara tertulis bahwa tidak terdapat alkohol yang digunakan dalam proses produksi.
  • Produsen Harus menyatakan secara tertulis bahwa tidak terdapat produk dari hewan / sisa kecuali pada dasarnya adalah halal termasuk didalamnya produk dan proses produksi.
  • Audit akan dilakukan setiap tahun kecuali jika ada terjadi perubahan pada proses produksi.
  • Secara umum, sertifikat halal berlaku untuk 1 tahunb kecuali daging export. Disini sertifikat halal dibutuhkan untuk setiap pengiriman.
  • Staff harus di latih oleh penyedia sertifikat untuk memastikan secara penuh dan mengetahui secara lengkap mengenai Halal.
  • Halal logo harus di sertakan di kemasan produk.

Baca juga artikel ini the European Institute of Halal Certification


24. Apakah sertifikat halal dibutuhkan untuk semua kosmetik yang akan di distribusikan di Indonesia?

Berdasarkan regulasi terbaru bahwa setiap prduk yang masuk, keluar, dan diperdagangkan dikawasan Indonesia harus memiliki sertifikasi halal dimana  produk tersebut berhubungan dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia, produk biologis, produk rekayasa genetik, dan juga produk yang kita kenakan, gunakan, dipakai untuk umum.


25. Adakah batas untuk Ethanol dalam produk yang sudah jadi?

Etahol yang terkandung di produk kosmetik untuk penggunaan dalam tubuh harus kurang dari 1% namun untuk penggunaan luar tubuh boleh lebih dari 1%.


26. Jika saya ingin mengirim kosmetik ke Indonesia saya harus memiliki sertfikasi halal. Bagaimana dengan bahan mentah dari suplier saya tempat produk kosmetik saya dibuat? Apakah suplier saya juga harus memiliki sertifikat halal?

Bahan yang digunakan dalam proses produksi terdiri dari bahan mentah, pemrosesan bahan, bahan tambahan, dan bahan lainnya. Oleh karena itu, bahan dari suplier anda harus di kategorikan sebagai bahan halal dan bukan bahan haram menurut syariat.


27. Apakah proses sertifikasi halal sama degan Malaysia?

Di Indonesia, Sertifikasi halal di dokumentasikan oleh pelaku bisnis untuk diserahkan ke BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal), setelah itu akan ada inspeksi atau uji coba untuk produk halal yang diusulkan dalam Fatwa Halal. Dalam Hal Fatwa Halal, akan ditentukan apakah produk tersebut dapat digunakan untuk operasional bisnis sebagai produk halal, BPJPH akan mengeluarkan surat Sertifikat Halal.


Untuk info lebih lanjut untuk mengenai sertifikat halal Anda bisa kontak Cekindo, dan tim kami akan membantu Anda untuk mendapatkan sertifikat halal untuk produk Anda.